Campbell & Lack (1985) dalam bukunya yang berjudul Dictionary of Birds menyebutkan bahwa migrasi merupakan pergerakan populasi burung yang terjadi pada waktu tertentu setiap tahun, dari tempat berbiak menuju tempat mencari makan selama iklim di tempat berbiaknya tidak memungkinkan.
Peristiwa yang mengesankan ini merupakan bentuk adaptasi dari burung terhadap perubahan cuaca dan menipisnya makanan di tempat asal. Burung-burung bermigrasi ke kawasan khatulistiwa (termasuk Indonesia), menempuh perjalanan panjang dan penuh risiko.
Di belahan bumi utara, persediaan makanan melimpah pada saat musim semi (spring) antara Maret - Mei, dan pada saat musim gugur (autum), antara September – November, persediaan makan semakin menipis. Sementara di kawasan khatulistiwa, makanan tersedia sepanjang tahun.
Kebanyakan dari burung-burung memulai pengembaraan pada waktu siang hari karena mereka menggunakan matahari sebagai petunjuk arah (sun compass).
Burung pemangsa, mereka memiliki kemampuan untuk mendeteksi lokasi matahari dan magnet bumi, dan dengan bantuan udara panas, mereka dapat terbang tinggi dan terbang meluncur agar hemat energi selama pengembaraan ke tempat tujuannya.
