Burung yang bermigrasi untuk menghindari musim dingin di Eropa, Asia Utara dan Timur, menuju lokasi tropika yang hangat seperti Indonesia, tidaklah mudah. Mereka berevolusi selama ribuan tahun, dikendalikan sebagian secara genetika, menghadapi tantangan cuaca, geografi, pakan, panjang hari, dan lainnya.
Ilmuwan menggunakan beberapa teknik dalam mempelajari migrasi burung, seperti memasang cincin, pelacakan satelit, maupun metode yang relatif baru, geolocators.
Rekor burung terbang migrasi terjauh dipegang oleh dara-laut artik (Sterna paradisaea), sanggup terbang dari Belanda menuju Antartika, sekitar 90 ribu kilometer, ditempuh sekitar 273 hari, tentu dengan beberapa kali persinggahan.
Untuk jalur terbang Asia Timur dan Australia, termasuk Indonesia, jenis biru-laut ekor-blorok (Limosa lapponica) pernah tercatat mampu terbang non-stop selama delapan hari dari Alaska, langsung melintasi pusat Samudra Pasifik sampai ke Selandia Baru, sekitar 11 ribu kilometer. Dibantu oleh angin kencang, burung ini melaju dengan rata-rata 56 kilometer per jam.
Ini berarti, burung telah melakukan perjalanan panjang saat sampai di halaman belakang rumah kita! Jadi, pastikan mereka disambut dengan makanan dan air segar saat tiba. Jangan ganggu, apalagi tembak.
